Selasa, 18 Juli 2017

Gelar Teknologi Perbenihan Cabe ‘Prima Agrihort’ di Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah



Komoditi cabe merupakan salah satu dari tujuh komoditas nasional (padi,jagung, kedelai, bawang merah, cabe, tebu, ternak) yang terus  ditingkatkan produtivitas dan produksinya dan dikembangkan di seluruh Nusantara termasuk di Prov.NTB. Untuk mendukung peningkatan produksi komoditi cabai, maka Badan Litbang Pertanian melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan NTB menggelar teknologi pertanian melalui demplot penangkaran benih cabai rawit jenis varietas Prima Agrihort di Dusun Karang Sideman, Desa Tanak Beak, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah.
Pada panen perdana gelar teknologi perbenihan cabai varietas unggul prima agrihort (13/7/2017) bersama Kepala Balitsa Balitbangtan,Kementan RI,  Dinas Pertanian dan Perkebuanan Prov. NTB, Dinas Pertanian Kab. Lombok Tengah, Penyuluh, kelompok tani serta sejumlah pihak terkait lainnya. Setelah dilakukan panen bersama kemudian dilakukan temu lapang di kelompok tani karya harum menghasillkan panen yang luar biasa dan sukses pada lahan seluas 0,05 hektar.
Dalam kesempatan tersebut Kepala BPTP Balitbangtan NTB “Dr. Ir. M. Saleh Mokhtar, MP bahwa komodoti cabe dengan jenis varietas prima agrihort memberikan hasil produksi meningkat yang disertai dengan perkembangan ilmu teknologi yang dianjurkan/disesuaikan. Karena varietas ini merupakan tahan terhadap serangan hama penyakit yang sesuai dengan iklim/cuaca saat ini yang dapat dipilih oleh petani.
BPTP Balitbangtan NTB sesuai dengan tupoksi dalam melakukan penyebaran informasi teknologi yang dilakukan oleh petugas sebelumnya berupa penelitian dan pengkajian serta dilakukan penyebaran informasi dibantu oleh penyuluh baik di BPTP dan Dinas Pertanian di berbagai sector pertanian, perikanan, hortikultura dan peternakan tegasnya.
Diungkapkan juga bahwa komoditi cabe selain tahan terhadap hama penyakit juga terlihat buah yang rimbun meski diguyur hujan. 

Gelar teknologi sebagai salah satu kegiatan diseminasi dan sosialisasi berupa pengalaman, peragaan dan demonstrasi teknologi hasil penelitan di lapangan dihadapan di masyarakat pengguna atau petani dengan harapan mampu mempercepat transfer informasi dan teknologi pertanian dan peternakan kepada pengguna teknologi secara langsung dan maksimal di masyarakat. 
Sedangkan Kepala Balistsa Balitbangtan Kementan RI Dr. Catur Hermanto, M.Sc mengungkapkan bangga dan bersemangat dengan hasil yang didapatkan akan demplot penanam pembenihan cabe benih unggul varietas prima agrihort di wilayah Batukliang Utara Kab. Lombok Tengah.
Dapat dilihat langsung oleh petani bahwa cabe varietas prima agrihort memiliki kelebihan yang tahan terdapat serangan hama penyakit, menyebabkan tingkat prouktivitas yan dihasilkan tinggi. Dengan hasil buah cabe lebih segar dan rasa cukup pedas hamper sama denga cabe rawit lokal pada umumnya.
Sementara itu, ketua kelompoktani karya harum Nur Ifansyah didesa karang sidemen kecamatan batukliang utara mengaku dan tidak menduga hasil yang didapatkan akan tanaman cabe verietas prima agrihort sebanyak rimbun buahnya.
Dan ungkapkan lagi, tanaman ini tahan terhadap serangan hama penyakit meski berbuah pada musim hujan yang cukup intensitasnya tinggi. Sehingga dengan hasil secara langsung tersebut petani dan penyuluh sebagai pendamping dalam memberikan penyuluhan dalam informasi teknologi seperti dempot dapat dirasakan secara kongkif. Petani sebagai audies yang akan disuluhkan dapat merasakan respon sikap, minat akan daya tarik serta motivasi teknologi yang baik dalam merubah perilaku/keterampilan kebiasaan akan informasi teknologi saat ini

Senin, 17 Juli 2017

Sosialisasi Perubahan Iklim Bagi Penyuluh Se Pulau Lombok



Perubahan iklim pada saat ini merupakan fenomena alam yang terjadi secara berubah-ubah dan perlu diwaspadai. Karena dampaknya sangat berpengaruh bagi kehidupan yang ada dimuka bumi. Oleh karena itu, dilakukan upaya sosialisasi perubahan iklim kepada  50 penyuluh se Pulau Lombok  akan perubahan dalam menjaga dan melestarikan yang disebabkan oleh perubahan iklim saat ini di Aula Balai Penyuluhan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian dan Perkebunan Prov. NTB beberapa hari lalu. (13/07/2017).
Dalam pertemuan sosialisasi yang di buka langsung oleh Kepala Biro Ekonomi Setda Prov. NTB “Dr. Ir. H. Manggaukang, MM” menjelaskan bahhwa perubahan iklim yang terjadi sangat signifikan dalam waktu tertentu ini. Dapat dilihat pada beberapa daerah ada daerah  banjir, kekeringan/kemarau. Dan saat ini di daerah NTB sebagaian besar paginya dingin dan siang panas dengan perubahan iklim yang berubah-ubah. Menyebabkan keganggunan ekosistem kehidupan bukan hanya manusia tetapi juga tumbuhan dan hewan khususnya berupa pertanian masyarakat dilapangan akan pola tanam yang baik dan cocok.
Perubahan iklim yang tidak menentu menyebabkan perubahan suhu yang dratis, curah hujan, pola angin, awan kelembaban udara dan sebagainya menrupakn factor dalam perubahan iklim dan cuaca.
Dijelaskan juga bahwa bukan hanya fenomena alam tetapi juga akan tingkah laku manusia seperti penebangan hutan secara liar, pemanasan global/efek rumah kaca (pembakaran CO2) dalam perusahaan/industry dan lain-lain ungkapnya.
Penyuluh sebagai garda terdepan dalam memberikan penyuluhan berupa informasi dan teknologi kepada petani khususnya akan perubahan ilkim berpengaruh pada pola tanam pertanian dalam mengubah perilaku sikap dan ktrampilan petani dilapangan
Selain itu, dijelaskan oleh Kepala BMKG Staklim Kelas I Lombok Barat “Ir. Wakodim”, dampak akan perubahan iklim yang disebaakan oleh terjadinya el nino dan el nina dapat mengancam kehidupan manusia seperti rusaknya infrastrukur sarana prasarana pertanian, menyebabkan wadah penyakit dan hama baik manusia/pertanian arti luas, bencana alam kekeringan/banjir sampai dengan akan memberikan pengaruh pada harga pangan semakin meningkat/mahal.
Misalkan perubahan iklim, dibidnag pertanian dan peternakan penggunaan pupuk penyubur nitrogen ke dalam tanah. Dimana beberapa dari nitrogen tersebut berubah menjadi Nitro Oksida (N2O) - gas rumah kaca yang sangat kuat. Dipertenakan sapi menciptakan gas methan saat rumput mengalami peragian di perut mereka dan masih banyak lainnya seperti pengeluaran gas dari kendahraan/alat trasportasi, perusahaan/industry, penggunaan lemari es/ acc dan sebagainya menyebabkan terjadinya pemanasan gobal.
Sedangkan menurut Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian dan Perkebunan Prov. NTB “Ir. Hj. Uliyati Ali, M.Si” kaitannya dengan perubahan iklim bagi penyuluh sangat baik dan bermanfaat akan peningkatan produktivitas dalam pencapaian target produksi padi, jagung, kedelai, kacang tanah/hijau, bawang merah, cabe, tebu dan ternak. Karena untuk saat ini target produksi dalam program upsus pajale untuk NTB meningkat. Sehingga peran serta penyuluh dalam mendampingi program kegiatan sangat dibutuhkan mendukung program swasembada pangan nasional.
Ditambahkan uga bahwa Prov. NTB telah ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai salah satu provinsi lumbung pangan nasional. Dengan potensi sumberdaya lahan pertanian yang cukup luas, baik berupa lahan sawah dan bukan sawah yaitu seluas 256.229 hektar ungkapnya.
Luas baku lahan sawah di Provinsi Nusa Tenggara Barat seluas 256.229 ha, diasumsikan luas pemanfaatannya adalah tiga kali luas lahan sawah baku yaitu sekitar 777.687 ha, yang dimanfaatkan untuk penanaman padi dan palawija, sehingga lahan sawah memiliki pemanfaatan yang sudah maksimum. Fakta tersebut memberikan makna bahwa peluang penambahan areal jagung pada  lahan sawah sudah tidak memungkinkan lagi dan sebagai alternatifnya adalah melalui peningkatan pemanfaatan lahan bukan sawah. Untuk rencana pengembangan jagung tahun 2017 seluas 400.000 hektar di NTB, akan dikembangkan di lahan sawah seluas 215.553 hektar dan lahan bukan sawah seluas 185.000 hektar yang difokuskan di Pulau Sumbawa karena memiliki potensi lahan bukan sawah yang cukup luas bila dibandingkan dengan Pulau Lombok yang terdistribusi di 5 kabupaten/kota di Pulau Sumbawa yaitu Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima dan Kota Bima tegasnya.

Minggu, 09 Juli 2017

Waspadai Pestisida Palsu dan Ilegal Untuk Petani/Konsumen

Petani Indonesia kini tak bisa dipisahkan lagi dengan pestisida. Bahkan sarana produksi tersebut sudah menjadi bagian dalam usaha tani. Sayangnya penggunaan bahan beracun tersebut kerap berlebihan alias over dosis.

Tingginya permintaan pestisida ternyata menjadi daya tarik bagi industri untuk meraup keuntungan besar. Bukan hanya itu oknum yang tak bertanggungjawab ingin ikut mencicipi bisnis pestisida dengan membuat pestisida palsu dan ilegal atau tanpa izin.

Pestisida palsu dan ilegal ini ditengarai banyak beredar di sentra-sentra hortikultura, seperti di Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah (Jateng), Jawa Timur (Jatim), Sumatera Utara (Sumut), Sukabumi, Cirebon, Gresik, dan sejumlah sentra hortikultura lainnya di tanah air. Selain merugikan petani, penggunaan pestisida palsu dan ilegal tersebut juga berdampak terhadap lingkungan dan manusia.

Kondisi geografis Indonesia dengan banyak pulau dan perairan laut yang luas membuat banyaknya pelabuhan tak resmi (jalur tikus) yang tersebar di sejumlah pulau. Kondisi tersebut memudahkan keluar-masuknya barang-barang ilegal, termasuk pestisida.

Lemahnya pengawasan terhadap barang-barang yang masuk di pelabuhan juga menjadi salah satu pemicu maraknya pestisida ilegal di Tanah Air. “Biasanya barang tersebut dari impor. Kita tak tahu produsennya dari mana, tapi dijual di kios-kios,” kata Direktur Pupuk dan Pestisida Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan, Muhrizal Sarwani.

Pembinaan dan Penyadaran
Untuk mencegah penjualan pestisida palsu dan ilegal, kata Muhrizal, pemerintah melakukan pembinaan dan penyadaran kepada penjual di kios-kios agar tak menjual pestisida tersebut. “Kita juga lakukan pembinaan ke petani supaya tak menggunakan pestisida ilegal,” katanya saat buka bersama CropLife Indonesia, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Muhrizal mengingatkan, penggunaan pestisida memang sangat mematikan terhadap hama tanaman. Namun, pestisida yang tak terdaftar sangat berbahaya karena belum ada pengujian dari lembaga terkait. Pastinya, petani yang menggunakan akan dirugikan. “Selain merugikan petani, penggunaan pestisida ilegal dan palsu berpotensi meracuni konsumen dan pengguna, dan berpotensi mencemari lingkungan,” kata dia.

Menurutnya, pestisida ilegal dan palsu dibuat tidak melalui quality contro/, sehingga tidak ada tes dampak negatifnya. Bahkan, pestisida tersebut tidak dapat diperkirakan efek sampingnya. “Jadi pestisida semacam ini tak layak pakai bagi petani dan dinyatakan dilarang pemerintah,” ujarnya.

sumber berita : http://tabloidsinartani.com/read-detail/read/waspadai-pestisida-palsu-dan-ilegal-meracuni-petani-konsumen-dan-merusak-lingkungan/

Senin, 06 Maret 2017

400 Petani Siap Mensukseskan Penas XV di Aceh



Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian dan Perkebunan Prov. NTB melakukan rapat koordinasi persiapan Pekan Nasional (PENAS) ke XV bersama Dinas Kab/Kota se NTB dan KTNA Kab/Kota, Prov. di Aula BPPSDMPP NTB (21/02/2017). Rencananya, sekitar 400 lebih petani NTB akan mengikuti acara, yang akan digelar pada 6-11 Mei 2017 di Stadion Harapan Bangsa Banda Aceh.
Rapat koordinasi yang dipimpin langsung oleh ketua KTNA Prov. NTB Ir. M. Sabri menjelaskan berbagai rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan mulai dari rembug madya dan rembug utama, temu profesi, temu sukses petani dan penyuluh, serta temu petani ASEAN dan mitra. Dan dapat digunakan untuk mengembangkan kemitraan dan membuka perdagangan produk pertanian di antara petani ASEAN. Selain itu, ada expo, promosi, dan pasar lelang hasil pertanian, dan sebagainya. Sehingga  setiap ajang kegiatan peserta NTB dapat berpartisipasi dan mengikuti keseluruhannya.
Oleh karena itu, perlu dilakukan koordinasi dan sikronisasi persiapan peserta pada setiap masing-masing kegiatan dan didampingi oleh panitia provinsi yang bertugas mendampingi peserta petani disetiap acara kegiatan tegasnya.
Sebelumnya peserta penas telah mempersiapkan diri jauh-jauh hari pada saat pelaksanaan pecan daerah (PEDA) Provinsi pada bulan November 2016. Sehingga secara moril peserta telah siap, tinggal memantapkan mental dan fisik peserta. Karena lokasi pelaksanaannya cukup jauh yaitu Kota Banda Aceh, Prov. NAD ungkap.
Sedangkan Kepala Balai PPSDMPP NTB Ir. Lalu. Muhammad Zaki, MM bahwa kegiatan Penas ini merupakan kegiatan form pertemuan antar petani nelayan dan hutan dalam memberikan tukar informasi dan pengalaman mulai dalam pengembangan teknologi, kemitraan jejaring kerjasama petani, nelayan dan hutan, peneliti, penyuluh, pihak swasta serta pemerintah secara swadaya dan mandiri mencapai pembangunan nasional. Sesuai dengan tema penas tahun ini yaitu “Melalui PENAS Petani Nelayan XV 2017 Kita Mantapkan Kelembagaan Tani Nelayan dan Petani Hutan Sebagai Mitra Kerja Pemerintah Dalam Rangka Kemandirian, Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Menuju Kesejahteraan Petani dan Nelayan Indonesia”.
Karena menurut informasi Penas XV di Banda Aceh, mempunyai perbedaan dengan pelaksanaan penas-penas sebelumnya adanya rangkaian kegiatan outbond dan ngopi terpanjang dan terbanyak di dunia. Dan akan dilakukan pertemuan Rakernas MAI dengan para stake holder dari Asia Pasific beserta para KTNA dan petani mengenai pemasaran produk.
Sehingga peserta dapat meningkatan motivasi, kegairahan para petani nelayan dan masyarakat pelaku agribisnis dalam pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan melalui kemitraan yang saling menguntungkan di NTB selanjutnya. 
Bukan hanya pada sector pertanian, sektor perikanan dan sektor kehutanan tetapi juga sektor peternakan serta sector perkebunan demi kesejahteraan masyarakat dan kemajuan daerah Prov. NTB